Belajar Yuk…!!!

Hasil dari belajar adalah Tindakan, bukan Pengetahuan

Ibuku, Pahlawan Sepanjang Masa


Tubuhnya kecil, meringkih, parasnya menebar ketenangan dengan riak-riak keriput yang bergaris disekitar matanya. Duduk di meja kayu khas bangku sekolah, Ibu merunduk menghayati tiap-tiap garis dalam tumpukan “buku bernilai”. Sesekali matanya mengerut, memperjelas tulisan pada buku raport itu, maklum mata Ibu minus. Untung Ayah menyiapkan lampu khusus agar Ibu bisa melihat lebih jelas. Hampir tiga jam Ibu meratapi, menggores tiap-tiap raport itu dengan pena pemberian pak camat, pena kebanggaannya. Namun naluri lainnya muncul, Ibu beranjak dari meja menuju tungku yang tak berasap seharian. Bukan karena Ibu malas memasak, tapi karena pekerjaan Ibu yang berjibun. Diraihnya kedelai berjamur itu, diiris menjadi enam, lumayan…untuk lauk makan malam ini. Tak lupa sambel terasi kesukaan Ayah, sayur asem favorit Adik dan kerupuk puli ganyanganku disiapkan Ibu. Entah Ibu belajar dimana, sampai masakan sederhana seperti ini disulap jadi makanan yang nikmat luar biasa. Rasanya sungguh beda, bumbu cinta dan penyedap rasa kasih sayang bercampur baur dalam semangkuk kebahagian yang memberi kehangatan pada dinginnya malam.

Diluar sana langit menangis dalam kegelapan. Membalut raga kemalasan untuk bergerak, tapi Ibu tidak. Dengan jejak pengabdian, Ibu kembali meraih pena dan raport itu. Mengisi setiap kolom biodata anak didiknya, tak sedikitpun tersirat riuh letih dari air mukanya yang tulus. Jiwa kepahlawanan Ibu tampak dari setiap hela nafas. Pahlawan tanpa tanda jasa, pemberi cahaya pada kegelapan hati, itulah yang ingin kusematkan pada Ibuku pelitahatiku. Ibuku adalah seorang  guru, yang setiap tutur dan lakunya digugu dan ditiru. Semangatnya tak pernah mati untuk sebuah masa depan bangsa lewat generasi penerusnya. Aku bangga!!

Malam sudah lewat, tapi pagi belum menyapa. Aku terbangun dari tidur, meratap lampu remang dalam kamar. Seolah ada yang membisikkan harapan dan cinta yang tulus, aku beranjak dan mencari sumbernya. Subhanallah…aku melihat Ibu duduk bersila diatas sajadah, mukenanya hampir basah, bahu Ibu terangguk-angguk begitu kerasnya. Ada apa gerangan Ibuku pelitahatiku? Mengapa cahaya itu tampak semakin terang dalam gelap yang menyergap? Ingin kurangkul Ibu dari belakang, tapi aku takut mengganggu. Kubiarkan saja, tak berkedip sedetikpun melihat Ibu bersimpuh keharibaanNYA. Menyebut AsmaNYA berulang kali. Lantutan ayat-ayat yang fasih terlontar dari bibir Ibu yang manis. Do’a untuk Ayah, do’a untuk kakek-nenek, do’a untuk buah hatinya, termasuk aku.  Meneteskan haru yang membiru dalam malam yang bisu. Katapun tak bisa membingkai rasa cintaku pada Ibu. Biarkan malam ini menjadi saksi ketulusannya pada Sang Pencipta, dan kecintaanku pada pahlawan sepanjang masa, Ibu.

Dua puluh tahun lebih Ibu berbagi dengan mengabdi. Namun tak pernah melewatkan kisah manja bersama keluarga. Waktu bagi ibu seperti roti yang harus dinikmati tiap-tiap bagiannya, tak ada yang terbuang percuma. Urusan sekolah dan keluarga menjadi tugas sekaligus hiburan baginya. Sayang…tubuh kecil Ibu tak mau berkompromi banyak. Seperti mesin yang semakin tua semakin rapuh, demikianpun dengan Ibu. Pucat pasi terpancar dalam rona kelembutannya. Raganya tak berdaya menopang semangat Ibu untuk tetap bisa menikmati hari-hari seperti sebelumnya. Hanya terbaring, menahan rasa sakit. Aku tak bisa berbuat banyak, bisaku cuma mengeluh, menuntut, minta ini minta itu, membatu, dan tak pernah tau apa yang dirasakan ibu. Jika sudah begini, penyesalan seolah menghantam jiwaku bertubi-tubi. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali kedewasaan diri. Berharap Ibu sembuh dan memeberikan yang terbaik baginya. Mengukir kembali senyumnya, menghapus airmata kesedihan menggantikannya dengan keharuan sebuah kesuksesan dalam usaha dan doa.

Kini, kedewasaan itu ‘kan teruji. Aku merantau, sejenak meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama keluarga. Mencoba membangkitkan asa dengan jejak pengabdian tulus yang pernah Ibu ajarkan. Walaupun  aku tak bisa  melihat Ibu berdo’a dalam malam yang bisu, tapi aku bisa merasakan getaran bibir itu yang terkirim lewat rasa rinduku padamu Ibu.

Ibuku Pelitahatiku…

Senyummu penyemangatku

Doamu keselamatanku

Selamat Hari Ibu

Semangat jiwa yang mengakar dalam darahmu

Menjadi bagian yang terpenting dan amat penting bagiku

Ibuku Pelitahatiku,

Pahlawan tanpa tanda jasa

Kasih sayangnya sepanjang masa

MandiriKost/201209/03:34wita

6 Komentar»

  Erna wrote @

2 tumbs up 4 mb.Bude tang pasti bangga py anak mb siska n mb nita. Ak salut sm mb.

  meftacemara wrote @

IBU……kasihnya sepanjang jalan, doanya sepanjang harapan….

“tulisanmu membuatku..ingin pulang kepeluk ibu….”

  luvori wrote @

mba’ e… dah minta izin ma bapak n ibu ta pasang fotona???… hehehehehe…

  Siska wrote @

sampun ca’…tulisane ‘geh pun d woco Ibu sampe nanges2, hiks…hiks…

  lainlambung wrote @

keren potonya mba…hehe

  bogelkaraenk wrote @

mantap,.,.,,, sebagai calon ibu yang baik, mestinya kamu memang perlu sesosok wanita yang km jadikan panutan,.,.,, Tidak ada kata yang paling indah di dunia ini selain ibU, dan tak ada wanita terindah di dunia ini selain iBu, ibu,.,ibu,.,dan ibu,.,.,,, barulah ayah,.,.,,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.