Tubuhnya kecil, meringkih, parasnya menebar ketenangan dengan riak-riak keriput yang bergaris disekitar matanya. Duduk di meja kayu khas bangku sekolah, Ibu merunduk menghayati tiap-tiap garis dalam tumpukan “buku bernilai”. Sesekali matanya mengerut, memperjelas tulisan pada buku raport itu, maklum mata Ibu minus. Untung Ayah menyiapkan lampu khusus agar Ibu bisa melihat lebih jelas. Hampir tiga jam Ibu meratapi, menggores tiap-tiap raport itu dengan pena pemberian pak camat, pena kebanggaannya. Namun naluri lainnya muncul, Ibu beranjak dari meja menuju tungku yang tak berasap seharian. Bukan karena Ibu malas memasak, tapi karena pekerjaan Ibu yang berjibun. Diraihnya kedelai berjamur itu, diiris menjadi enam, lumayan…untuk lauk makan malam ini. Tak lupa sambel terasi kesukaan Aya
h, sayur asem favorit Adik dan kerupuk puli ganyanganku disiapkan Ibu. Entah Ibu belajar dimana, sampai masakan sederhana seperti ini disulap jadi makanan yang nikmat luar biasa. Rasanya sungguh beda, bumbu cinta dan penyedap rasa kasih sayang bercampur baur dalam semangkuk kebahagian yang memberi kehangatan pada dinginnya malam.
Diluar sana langit menangis dalam kegelapan. Membalut raga kemalasan untuk bergerak, tapi Ibu tidak. Dengan jejak pengabdian, Ibu kembali meraih pena dan raport itu. Mengisi setiap kolom biodata anak didiknya, tak sedikitpun tersirat riuh letih dari air mukanya yang tulus. Jiwa kepahlawanan Ibu tampak dari setiap hela nafas. Pahlawan tanpa tanda jasa, pemberi cahaya pada kegelapan hati, itulah yang ingin kusematkan pada Ibuku pelitahatiku. Ibuku adalah seorang guru, yang setiap tutur dan lakunya digugu dan ditiru. Semangatnya tak pernah mati untuk sebuah masa depan bangsa lewat generasi penerusnya. Aku bangga!!
Malam sudah lewat, tapi pagi belum menyapa. Aku terbangun dari tidur, meratap lampu remang dalam kamar. Seolah ada yang membisikkan harapan dan cinta yang tulus, aku beranjak dan mencari sumbernya. Subhanallah…aku melihat Ibu duduk bersila diatas sajadah, mukenanya hampir basah, bahu Ibu terangguk-angguk begitu kerasnya. Ada apa gerangan Ibuku pelitahatiku? Mengapa cahaya itu tampak semakin terang dalam gelap yang menyergap? Ingin kurangkul Ibu dari belakang, tapi aku takut mengganggu. Kubiarkan saja, tak berkedip sedetikpun melihat Ibu bersimpuh keharibaanNYA. Menyebut AsmaNYA berulang kali. Lantutan ayat-ayat yang fasih terlontar dari bibir Ibu yang manis. Do’a untuk Ayah, do’a untuk kakek-nenek, do’a untuk buah hatinya, termasuk aku. Meneteskan haru yang membiru dalam malam yang bisu. Katapun tak bisa membingkai rasa cintaku pada Ibu. Biarkan malam ini menjadi saksi ketulusannya pada Sang Pencipta, dan kecintaanku pada pahlawan sepanjang masa, Ibu.
Dua puluh tahun lebih Ibu berbagi dengan mengabdi. Namun tak pernah melewatkan kisah manja bersama keluarga. Waktu bagi ibu seperti roti yang harus dinikmati tiap-tiap bagiannya, tak ada yang terbuang percuma. Urusan sekolah dan keluarga menjadi tugas sekaligus hiburan baginya. Sayang…tubuh kecil Ibu tak mau berkompromi banyak. Seperti mesin yang semakin tua semakin rapuh, demikianpun dengan Ibu. Pucat pasi terpancar dalam rona kelembutannya. Raganya tak berdaya menopang semangat Ibu untuk tetap bisa menikmati hari-hari seperti sebelumnya. Hanya terbaring, menahan rasa sakit. Aku tak bisa berbuat banyak, bisaku cuma mengeluh, menuntut, minta ini minta itu, membatu, dan tak pernah tau apa yang dirasakan ibu. Jika sudah begini, penyesalan seolah menghantam jiwaku bertubi-tubi. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali kedewasaan diri. Berharap Ibu sembuh dan memeberikan yang terbaik baginya. Mengukir kembali senyumnya, menghapus airmata kesedihan menggantikannya dengan keharuan sebuah kesuksesan dalam usaha dan doa.
Kini, kedewasaan itu ‘kan teruji. Aku merantau, sejenak meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama keluarga. Mencoba membangkitkan asa dengan jejak pengabdian tulus yang pernah Ibu ajarkan. Walaupun aku tak bisa melihat Ibu berdo’a dalam malam yang bisu, tapi aku bisa merasakan getaran bibir itu yang terkirim lewat rasa rinduku padamu Ibu.
Ibuku Pelitahatiku…
Senyummu penyemangatku
Doamu keselamatanku
Selamat Hari Ibu
Semangat jiwa yang mengakar dalam darahmu
Menjadi bagian yang terpenting dan amat penting bagiku
Ibuku Pelitahatiku,
Pahlawan tanpa tanda jasa
Kasih sayangnya sepanjang masa
MandiriKost/201209/03:34wita
2 tumbs up 4 mb.Bude tang pasti bangga py anak mb siska n mb nita. Ak salut sm mb.