Aku punya rumah kecil sederhana. Pekarangannya elok. Sejuk. Penghuninya lumanyan banyak, ada ayah, ibu, kakak, adik, sepupu, ponakan, om dan tante. Tapi..tak semuanya betah tinggal disini. Aku tak tau pasti apa alasannya? Mungkin karena rumah ini terlalu sempit, pengap (bagi mereka), atau karena fasilitasnya terbatas? atau lagi, karena ayah dan ibu tak bisa memenuhi semua keinginan mereka? oh…sungguh kasian!!! rumah kecil ini seharusnya ramai oleh kalian. Kalaupun kalian tak betah atau tak puas dengan apa yang telah disediakan, buatlah rumah ini indah seperti yang kalian harapkan. Ayah dan ibu tak mungkin marah. Dari pada kalian harus membandingkan rumah kita dengan rumah tetangga. Tak ada salahnya kita membangun kemesraan, biar tetangga sebelah iri dengan kemesraan ini. Tapi jangan terlalu mesra pula, nanti tetangga sebelah curiga, kita tidak pernah berkerja, hanya bermesra-mesra ria.
Hmmm…memang susah ketika banyak kepala di rumah ini, banyak pula kemauannya, dan tak pernah berpikir bagaimana satu persatu memenuhinya. Ya sudahlah….kalau begitu pergi saja sana. Cari kehidupan yang membuat kalian nyaman. Toh kita sudah sama-sama besar, mungkin cuma adik kecil kita ini yang tak tau apa-apa. Biarkan dia ikut ibu dan ayah, biar mereka terhibur.
Sayang…sekarang aku yang harus pergi dari rumah ini.
Tapi tunggu…tunggu dulu…aku pergi tak jauh dari rumah, juga tak lama. Ada toko obat baru di depan kompleks rumah kita. Yang punya bukan orang pribumi, tapi tak apalah…karena hanya toko obat itu yang mau menerima pegawai baru. Di gang sebelah juga ada salon baru, Salon Rahayu namanya. Tapi ibu dan ayah tak mengizinkanku bekerja disitu, ibu lebih setuju aku di toko obat depan kompleks, mungkin supaya aku tetap dekat dengan mereka. Ayah juga bilang, toko obat lebih bagus. Paling tidak, kalau ada yang sakit dari keluarga ini, aku bisa tau obat yang tepat dan mujarab. Dari pada salon yang hanya melayani orang-orang yang tak pernah men-syukuri karuniaNya. Menurut ayah, semua yang di salon itu ‘palsu’, rambut palsu, alis palsu, bahkan muka palsu juga dibuat di salon itu. Yahh…ada-ada saja ayah ini.
Aku berharap rumah ini tak akan sepi, meski aku harus pulang pergi. Oh iya…besok hari ulang tahun ibu, tepatnya yang ke 53 tahun. Buat kalian yang pernah meninggalkan rumah kecil kita ini, kembalilah…demi ibu, demi kita semua… Tengoklah rumah kecil kita ini. Bukan untuk mengenang masa lalunya, paling tidak bertanya, “apa kabar rumah kecilku?“. Karena sesungguhnya kita bagian dari sejarah kehidupan dikeluarga ini dan rumah kecil inilah saksinya!!
***
Tulisan ini ku persembahkan untuk Rumah Kecil Kita, BaruGa. Disinilah aku belajar banyak tentang arti tanggung jawab dalam sebuah “keluarga”. Tak ada yang lebih yang bisa aku beri di Rumah Kecil ini, selain keterlambatan untuk menghadirkannya. Maaf untuk sesuatu yang tak sesuai dengan expectacy kalian. Tapi sungguh…aku berproses didalamnya. Kalau toh hasilnya tak memuaskan, sekali lagi maaf, aku hadir bukan untuk memuaskan tiap-tiap dari kalian. Bukan karena aku lebih bisa dari kalian, tapi karena aku lebih beruntung bisa menjadi bagian dari Rumah Kecil Kita ini. “satu mata hati, satu kata hati”
MC/111209/01:16wita
baa……. (Ya…)…..
itulah yang terbaik disaat kita bisa memilih, dan teruslah berjalanlah ketika itu menjadi keputusa.!!! entah apa yg mw d bicarakan org tentang kita, tapi itulah kita.
jadi bukan syp yg pintar atau yang beruntung.. tapi yang dilihat ialah proses yang kita alami.
saya.. selalu bersama muw disetiap engaku membutuhkankuw.
zmangat mbaQu.. sang sang ojek dadakan.. upzsss……….. keceplosan.. hehehhe