Belajar Yuk…!!!

Hasil dari belajar adalah Tindakan, bukan Pengetahuan

Arsip untuk Agustus, 2008

Marhaban Yaa Ramadhan…

Manusia tempat segala dosa bermuara

Tempat segala ingkar berikrar

Dan tempat segala musibah tertumpah

Aku manusia…

Ketika mulutku tak mampu berucap

Hati ini bertanya: akankah aku mampu menjadi insan seperti kehendakNYA?

Hanya air mata yang mampu menjawab dengan derainya

Marhaban Yaa Ramadhan…

Selamat datang bulan penuh rahmat

Kehadiranmu sebagai bulan suci membawa aku ke ladang ampunanNYA

Atas dosa, khilaf dan hati yang berprasangka

“selamat menunaikan ibadah puasa 1429H”

MandiriKost,310808/21:23wita

ada TUYUL di Rektorat

Isu mistis terkadang membuat rasio kita tak berfungsi secara normal. Fenomena penasaran yang belakangan melanda warga KOSMIK kini sedikit demi sedikit mulai terkuak. Isu tentang keberadaan tuyul di kampus merah UNHAS menyeruak hingga kepermukaan. “ada tuyul di rektorat“, inilah kalimat pertama yang terlontar dari seorang teman (sebut asaja Cici. red) dan akhirnya mampu menghipnotis pikiran teman-teman lainnya untuk dapat melihat mahkluk gaib yang dilindungi ini. Tak sampai satu minggu isu tuyul menyebar luas “nyaris” keseluruh warga KOSMIK. Pertanyaan bertubi-tubi bersarang pada Cici, menunjukkan rasa penasaran tingkat tinggi mereka. Ini bukan lagi bicara soal paradigma, teori, atau analisis yang biasa menjadi makanan komunitas unik dan radikal, tapi ini soal keyakinan dan kepolosan.

- Keyakinan : sejauh mana Cici mampu meyakinkan teman-teman soal tuyul dan sejauh mana mereka (tuyulholic) yakin atau percaya terhadap keberadaan tuyul itu.

- Kepolosan : begitu polosnya Cici menyebarkan isu keberadaan tuyul tanpa memperhatikan psikologis teman-teman yang berbuntut pada rasa penasaran tinggkat tinggi mereka, Cici seolah hadir tanpa bersalah hingga akhirnya membangun polemik soal ketuyulan. Begitu polosnya pula tuyulholic menganggap serius keberadaan makhluk yang identik dengan kepala plontos ini.

Sampai opini ini diposting, tercatat 60% orang masih percaya (penasaran) dan belum melihat wujud tuyul yang sebenarnya. Dan 40% orang yang telah mengetahui keberadaan tuyul menyatakan penyesalan dan menyimpan kekecewaan mendalam.

Siapakah si tuyul sebenarnya? dan siapakah Cici? sehingga mampu mendongkrak rasa penasaran komunitas biru-merah ini?

Akankah 60% orang mengalami shock ataupun kekecewaan sama halnya dengan responden 40%?, ketika mengetahui bahwa tuyul yang dimaksud adalah dia yang bertengger di taman segitiga rektorat UNHAS, berwarna hitam polos, tinggi mencapai kurang lebih 30cm, dengan background kuning, dan tergantung diatas tiang.

MandiriKost,300808/23:40wita

Ryan: Pembunuhan Berantai, Media: Pembunuhan Karakter

Kasus pembunuhan berantai yang saat ini sedang booming dibicarakan, membuat sang peran utama dalam drama itu menjadi benar-benar tenar. Siapa yang tak kenal Very Idam Henyansyah alias Ryan?. Orang yang dianggap pembunuh berdarah dingin, yang telah memakan korban 11 orang. Media tak henti-hentinya memuat berita soal pembunuhan berantai yang memakan banyak korban ini. Tragis memang, melihat dan mendengar berita yang cukup menggemparkan seantero jagad pribumi. Kota Jombang pun menjadi kota yang terkenal dadakan sebagai tempat wisata kawasan penimbunan mayat korban Ryan. Tapi siapa yang menjadikan semua ini gembar? Dan si Ryan menjadi tenar? Jawabannya adalah media. Media mampu membangun karakter seseorang tapi kala itu juga media bisa melakukan pembunuhan karakter. Disinilah peran media dalam mempublikasikan berita tentang Ryan membawa dampak besar. Agenda Setting Theory nampaknya telah diperankan oleh media saat ini. Asumsinya bahwa media tidak merefleksikan realitas, namun cenderung membentuk realitas itu. Media mengarahkan kita untuk memperhatikan sesuatu dan mengabaikan yang lain. Disadari atau tidak, popularitas Ryan baik sebagai masyarakat biasa atau tersangka pembunuhan mengalahkan popularitas Artalita atau tikus-tikus lainnya dalam kasus korupsi yang belakangan sempat menjadi pemberitaan.

Media gagal meramu kasus Ryan secara proporsional. Seperti dilansir dari KOMPAS (03/08/08). Dimana berbagai media nasional berlomba-lomba melakukan pemberitaan tentang kasus Ryan yang dikomodifikasi demi memburu rating. Sehingga kontens pemberitaan tak lagi dipedulikan. Bahkan Privacy kehidupan Ryan di expose blak-blakan. Mungkin karena Ryan orang biasa yang tidak mempunyai kekuasaan hukum yang tinggi sehingga seenaknya saja dipublikasian. Seperti yang dilakukan media elektronik tertentu dalam pemberitaannya tentang kehidupan keluarganya pada masa lalu. Pasalnya, Ibu Ryan telah hamil 4 Bulan sebelum akhirnya dia menikah dengan ayah Ryan. Pemberitaannya pun sudah tidak relevan lagi dengan peristiwa kasus yang sebenarnya.

Kasus ini juga berdampak pada perspektif seseorang, wacana yang hadir ditengah-tengah masyarakat mampu mengeneralisir kepribadian Ryan. Kabar bahwa Ryan adalah seorang Homosex/ Gay, membuat masyarakat beranggapan semua kaum Homo itu sekejam Ryan. Katz & Lazarsfeld (1955) dalam teorinya Hypodermic Needle bahwa bagaimana media massa memberikan pengaruh yang besar dalam masyarakat. Media seolah “menyuntikkan” jarum pesan pada audience yang pasif sehingga cepat mempengaruhi mereka dengan pesan tersebut. Kini kasus Ryan menjadi complex, sasaran empuk pemberitaan media ditengah isu lainnya yang mungkin terbungkus oleh kejadian fenomenal ini. Ryan menjadi “laris” dipasaran media.

BiroTrans, 060808/20:04wita

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.