Marhaban Yaa Ramadhan…

Manusia tempat segala dosa bermuara

Tempat segala ingkar berikrar

Dan tempat segala musibah tertumpah

Aku manusia…

Ketika mulutku tak mampu berucap

Hati ini bertanya: akankah aku mampu menjadi insan seperti kehendakNYA?

Hanya air mata yang mampu menjawab dengan derainya

Marhaban Yaa Ramadhan…

Selamat datang bulan penuh rahmat

Kehadiranmu sebagai bulan suci membawa aku ke ladang ampunanNYA

Atas dosa, khilaf dan hati yang berprasangka

“selamat menunaikan ibadah puasa 1429H”

MandiriKost,310808/21:23wita

ada TUYUL di Rektorat

Isu mistis terkadang membuat rasio kita tak berfungsi secara normal. Fenomena penasaran yang belakangan melanda warga KOSMIK kini sedikit demi sedikit mulai terkuak. Isu tentang keberadaan tuyul di kampus merah UNHAS menyeruak hingga kepermukaan. “ada tuyul di rektorat“, inilah kalimat pertama yang terlontar dari seorang teman (sebut asaja Cici. red) dan akhirnya mampu menghipnotis pikiran teman-teman lainnya untuk dapat melihat mahkluk gaib yang dilindungi ini. Tak sampai satu minggu isu tuyul menyebar luas “nyaris” keseluruh warga KOSMIK. Pertanyaan bertubi-tubi bersarang pada Cici, menunjukkan rasa penasaran tingkat tinggi mereka. Ini bukan lagi bicara soal paradigma, teori, atau analisis yang biasa menjadi makanan komunitas unik dan radikal, tapi ini soal keyakinan dan kepolosan.

- Keyakinan : sejauh mana Cici mampu meyakinkan teman-teman soal tuyul dan sejauh mana mereka (tuyulholic) yakin atau percaya terhadap keberadaan tuyul itu.

- Kepolosan : begitu polosnya Cici menyebarkan isu keberadaan tuyul tanpa memperhatikan psikologis teman-teman yang berbuntut pada rasa penasaran tinggkat tinggi mereka, Cici seolah hadir tanpa bersalah hingga akhirnya membangun polemik soal ketuyulan. Begitu polosnya pula tuyulholic menganggap serius keberadaan makhluk yang identik dengan kepala plontos ini.

Sampai opini ini diposting, tercatat 60% orang masih percaya (penasaran) dan belum melihat wujud tuyul yang sebenarnya. Dan 40% orang yang telah mengetahui keberadaan tuyul menyatakan penyesalan dan menyimpan kekecewaan mendalam.

Siapakah si tuyul sebenarnya? dan siapakah Cici? sehingga mampu mendongkrak rasa penasaran komunitas biru-merah ini?

Akankah 60% orang mengalami shock ataupun kekecewaan sama halnya dengan responden 40%?, ketika mengetahui bahwa tuyul yang dimaksud adalah dia yang bertengger di taman segitiga rektorat UNHAS, berwarna hitam polos, tinggi mencapai kurang lebih 30cm, dengan background kuning, dan tergantung diatas tiang.

MandiriKost,300808/23:40wita

Ryan: Pembunuhan Berantai, Media: Pembunuhan Karakter

Kasus pembunuhan berantai yang saat ini sedang booming dibicarakan, membuat sang peran utama dalam drama itu menjadi benar-benar tenar. Siapa yang tak kenal Very Idam Henyansyah alias Ryan?. Orang yang dianggap pembunuh berdarah dingin, yang telah memakan korban 11 orang. Media tak henti-hentinya memuat berita soal pembunuhan berantai yang memakan banyak korban ini. Tragis memang, melihat dan mendengar berita yang cukup menggemparkan seantero jagad pribumi. Kota Jombang pun menjadi kota yang terkenal dadakan sebagai tempat wisata kawasan penimbunan mayat korban Ryan. Tapi siapa yang menjadikan semua ini gembar? Dan si Ryan menjadi tenar? Jawabannya adalah media. Media mampu membangun karakter seseorang tapi kala itu juga media bisa melakukan pembunuhan karakter. Disinilah peran media dalam mempublikasikan berita tentang Ryan membawa dampak besar. Agenda Setting Theory nampaknya telah diperankan oleh media saat ini. Asumsinya bahwa media tidak merefleksikan realitas, namun cenderung membentuk realitas itu. Media mengarahkan kita untuk memperhatikan sesuatu dan mengabaikan yang lain. Disadari atau tidak, popularitas Ryan baik sebagai masyarakat biasa atau tersangka pembunuhan mengalahkan popularitas Artalita atau tikus-tikus lainnya dalam kasus korupsi yang belakangan sempat menjadi pemberitaan.

Media gagal meramu kasus Ryan secara proporsional. Seperti dilansir dari KOMPAS (03/08/08). Dimana berbagai media nasional berlomba-lomba melakukan pemberitaan tentang kasus Ryan yang dikomodifikasi demi memburu rating. Sehingga kontens pemberitaan tak lagi dipedulikan. Bahkan Privacy kehidupan Ryan di expose blak-blakan. Mungkin karena Ryan orang biasa yang tidak mempunyai kekuasaan hukum yang tinggi sehingga seenaknya saja dipublikasian. Seperti yang dilakukan media elektronik tertentu dalam pemberitaannya tentang kehidupan keluarganya pada masa lalu. Pasalnya, Ibu Ryan telah hamil 4 Bulan sebelum akhirnya dia menikah dengan ayah Ryan. Pemberitaannya pun sudah tidak relevan lagi dengan peristiwa kasus yang sebenarnya.

Kasus ini juga berdampak pada perspektif seseorang, wacana yang hadir ditengah-tengah masyarakat mampu mengeneralisir kepribadian Ryan. Kabar bahwa Ryan adalah seorang Homosex/ Gay, membuat masyarakat beranggapan semua kaum Homo itu sekejam Ryan. Katz & Lazarsfeld (1955) dalam teorinya Hypodermic Needle bahwa bagaimana media massa memberikan pengaruh yang besar dalam masyarakat. Media seolah “menyuntikkan” jarum pesan pada audience yang pasif sehingga cepat mempengaruhi mereka dengan pesan tersebut. Kini kasus Ryan menjadi complex, sasaran empuk pemberitaan media ditengah isu lainnya yang mungkin terbungkus oleh kejadian fenomenal ini. Ryan menjadi “laris” dipasaran media.

BiroTrans, 060808/20:04wita

Karya Jurnalistik

Karya jurnalistik adalah mudah bagi orang yang paham ranah jurnalistik. Semudah apakah itu? Ya…semudah anda memahami arti kebenaran dan keuletan. Tapi tampaknya dua kata tersebut tak bisa diartikan secara harfiah saja. Falsafah kebenaran harus dijelaskan dengan rinci tanpa menimbulkan pertanyaan baru yang membingungkan lagi. Namun kata kebenaran sendiri sangat riskan, apalagi bicara tentang paradigma.

Memegang amanah, menjadi pemimpin karya jurnalistik seperti majalah, tentu tidak mudah. Melahirkan media cetak jurnalistik di lingkungan kaum intelektual jelas membutuhkan pemikiran yang kritis. Kritis terhadap segala persoalan yang disuguhkan demikian rapi, sehingga mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu hanya birokrasi yang dianggap lumrah. Bukan sekedar menggoreskan pena pemikiran yang mendongeng dan mendayu-dayu seolah membawa si pembaca singgah ke alam bawah sadar yang memang tak pernah realistis. Ini kampus..!! tempat lahir dan terbentuknya pemikiran-pemikiran kritis yang idealis. Jangan lagi takut bersikap idealis, karena justru jiwa idealis itu harus muncul diatas sistem birokrasi yang sok ulet. Ini adalah sebuah karya independensi yang tak lepas dari kebebasan berkarya namun tetap berpegang teguh pada kode etik. Pengolahan issu yang mendalam berujung pada proses investigasi untuk melahirkan fakta yang lebih tajam dan akurat. Issu tidak lagi diolah secara ringan dan tak berbobot. “Apa dibalik apa” merupakan kunci laporan mendalam tentang sebuah peristiwa.

Memulainya dengan komitmen adalah langkah awal yang bijak. Komitmen untuk sama-sama bertanggung jawab membangun kekuatan sebuah karya independensi yang menglobal sehingga majalah ini tak hanya sebagai telur dari program kerja, tapi mendapat kredibilitas contents yang lahir dari goresan pena para jurnalisnya. Namun alangkah baiknya komitmen yang dibangun dipadukan dengan kompetensi atau skill menulis yang dimiliki tiap-tiap jurnalis, sehingga benar-benar lahir karya jurnalistik layak publikasi.

***

Majalah BARUGA merupakan salah satu wadah kreativitas mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam menghasilkan sebuah karya jurnalistik. Membawa nuansa unik dan radikal, majalah ini lahir ditengah-tengah komunitas mahasiswa yang sarat akan pengetahuan jurnalistik. Tujuannya pun sangat konkret bahwa ini adalah praktek produksi karya dalam proses belajar. Disinilah lahir jurnalis-jurnalis muda dalam meramu fakta menjadi berita tulis yang layak untuk dipublikasikan dan dikonsumsi khalayak terlebih kaum intelektual akademika.

de@net, 250708/22:09wita

Aku… Kau…

Anganku tak pernah lepas dari kharismanya

Memukau bak mutiara disirami rem

bulan

Cahaya manapun tak mampu membendung pancarannya

Mulutnya berbisa

Meracuni kalbuku yang tertutup embun oleh dinginnya malam

Kau hadir kembali seperti rasi bintang yang pandai meramal

Namun aku terjatuh ke lumbung padi berduri

Sakit…!!! Apakah kau merasakan itu?

Kau tampak acuh

Aku makin sakit, tak sedikitpun kau tahu

Aku menjerit, kau tampak tak panik

Aku meronta, kau diam saja

Kini aku berontak, dan kau tinggalkan aku tanpa jejak

Sekejam itukah dirimu? Menitip angan pada zaman yang tak pernah kau hiraukan

mandirikost,220608,11.10wita

“TIREN” Film Horor Berbasis Porno

Film karya sutradara Indonesia nampaknya sudah merajai studio film di kota-kota. mulai dari karya bermutu hingga menghilangkan selera nonton publik terhadap karya film tersebut. Horor-mistik menjadi tema film Indonesia yang boming saaat ini. segala macam rupa hantu disuguhkan pada masyarakat yang nampaknya ikut tergiur dengan adegan-adegan yang menegangkan. “TIREN” merupakan salah satu film horor yang sedang tayang saat ini di studio-studio bioskop kesayangan anda. Sepintas judul dan gambar dalam showbox-nya menarik perhatian sejumlah orang, salah satunya adalah saya dan teman-teman. Tak dinaya, adegan tiap adegan dalam film itu jauh dari prinsip dasar film layak tonton segala usia. Temanya pun jauuuhhhh melenceng hebat bak roket meluncur tak terkendali menembus dinding2 luar angkasa. Seperti; -Judul: TIREN alias mati kemarin tak menunjukkan bahwa film tersebut adalah bertemakan orang yang mati kemaren yang gentayangan dengan sebas almusabab yang tidak jelas.

-Showbox: dalam showbox terpampang gambar adegan seseorang sedang memandikan mayat yang tergeletak di atas pelepah pisang. Namun ditunggu-tunggu adegan itu tak muncul sekelibat pun.

-Unsur porno: tema horor tidak lagi melekat dalam alur cerita. bahkan adegan syur tak ber-attitude disajikan blak-blakan. Pilihan gambarnya tal mewakili sebuah cerita horor. Justru diperkuat pada adegan mandi, bercumbu, pipis, kemulusan paha artis.

Film ini hanya diperkuat oleh sound yang memekak tiba-tiba, sehingga penonton pun terkaget-kaget. BUKAN karena adegan horor yang memikat.

Terkadang memang karya film saat ini tak bisa dipertanggungjawabkan, asal jadi dan berprofit. tak lagi ada pertimbangan kualitas film dari segi alur cerita, gambar, atau bahkan talent. Film TIREN inipun tak jauh beda dari film-film horor sebelumnya, seperti ‘terowongan casablanca’, ‘pulau hantu’, ‘malam jumat kliwon’, dan beragam jenis hantu lainnya. Beginilah mungkin gambaran kekreatifitasan seorang sutradara dalam meracik sebuah ide cerita kedalam kemasan audio visual. Ada dua pandangan yang berbeda dalam memaknai film sebagai kaya seni. Pertama; kapan kita akan mulai menghargai film Indonesia, kalau kita tidak akan pernah menikmati dan melihat perkembangannya film Indonesia itu sendiri. Kedua; bagaimana kita bisa menerima karya itu dengan baik jika tidak sesuai dengan aturan atau konsep yang sesuai, yang terkadang si sutradara menyajikannya begitu saja tanpa konsep yang matang dan kadang tak memuaskan.

Kini, tergantung anda sebagai penikmat film. Film manakah yang sesuai dengan kebutuhan anda dan menjadi daya tarik anda. Kalupun anda ingin menjadi kritikus film yang baik, tak ada salahnya menikmati segala jenis tema/judul film Indonesia untuk mengetahui perkembangan dunia per-film-an Indonesia.

de@net,280608-20.11wita

kosmik get up..!!!

KOSMIK telah melahirkan pemimpin baru (12/06). Tepat pukul 02.24 wita, terpilih secara resmi ketua Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi periode 2008-2009, Irwan Idris, putra asal Gowa-Makassar. MUBES ke-21 yang berlangsung selama 4 hari ini rupanya sedikit menyita perhatian warga kosmik yang sedikit peduli dengan organisasi. Buktinya, rapat sidang MUBES tak jarang di pending atau bahkan di scorsing hanya karena tidak memenuhi quota forum (Qorum). Jumlah peserta yang hadir dibawah rata-rata jumlah anggota KOSMIK secara penuh. Tragis memang, mengingat pamor keorganisasian KOSMIK sempat berada dipuncak dan menjadi pusat perhatian di kalangan himpunan mahasiswa lainnya. KOSMIK bahkan lebih dikenal dari pada jurusan ilmu komunikasi itu sendiri. Ketika KOSMIK tertatih-tatih menuju ke keharmonisan anggota dan berada di puncak ketenaran, lambat laun di enyahkan begitu saja oleh para penganut paham modernism. Skat-skat yang dibuat secara tidak sadar dan tidak terstruktur, hadir tanpa bersalah. Tidak ada lagi prinsip dasar keorganisasian yang melekat atau bahkan mendarah daging di tiap insan intelektual ini. Walaupun ini hanya argumentasi mentah dari saya pribadi, tapi saya mendapatkan esensi ke KOSMIK-kan yang demikian. Nyata atau tidak? Biarkan anda yang menginterpretasikan sendiri.

Akankah kehadiran sang pemimpin organisasi yang baru ini mampu membangun persepsi baru tentang ke KOSMIK-an? Pertanyaan ini mungkin belum bisa terjawab saat ini, ini adalah langkah awal kepengurusannya. Namun gerak antipasi harus dibangun sejak dini, dan bukan hanya sang pepimpin yang kita sorot, antek-anteknya pun demikian. Karena ini adalah sebuah organisasi yang tidak dan bukan milik sang pemimpin semata. Kemudian bagaimana strategi kepungurusan ini dibentuk secara apik?. Sejauh mata memandang, tampaknya sudah tercium bau-bau pergerakan oleh kepengurusan periode saat ini. Tak tinggal diam, para leluhur KOSMIK yang masih berpijak di tanah KOSMIK membangun strategi dan seolah siap tempur. akankah KOSMIK mampu bertahan dalam peradaban dunia kelembagaan? atau bahkan membangun peradapan baru tentang lembaga oragnisasi non-profit?

KOSMIK, get up..!!!

de@net,280608-18.36wita

untuk satu bantal dan guling

hari ini…penampilanku sedikit berbeda (tapi untuk 1 hr ini saja). feminim…hihihi… ternyata gak kalah manis dari biasanya. dibalut long dress made in “cakar”, dengan paduan warna yang manis (ijo, orange, cream), sepatu plastik yang rada pasaran juga membalut kakiku yang indah, walau betis terlihat sedikit besar, ayunan langkangku menyamarkannya. tak lupa aku menutup bagian lengan dengan kardigan hitam, karena aku tak mau terlihat sexy dengan kekekaran lenganku… sungguh banyak yang memujiku…(entah pujian belaka atau apa adanya..???). percaya diriku bertambah.

ditengah berjibunnya tugas kuliah, aku menyempatkan diri menitip angan pada kenikmatan. ajakan hangout teman menjadi pilihan. ditemani dua orang teman (benu n congling), aku meninggalkan sangkar. wah….terasa kepenatan tehempas sejenak, keindahan alam buatan memanjakan pikiran yang mulai lelah. aku terhibur…scene-nya begitu lucu. sungguh… DIA memberikannya padaku, kenikmatan dunia yang terbungkus haru. akhirnya aku dan congling terpisah. benu ikut bersamaku,dia hendak bermalam di sangkarku.

malam itu…rembulan tampak ragu. seolah memberi isyarat air matanya ‘kan jatuh. aku tak menghiraukannya. biarkan kenikmatan tadi merasuki hati. aku berlalu…bersama benu. 1…2…angkot ku tumpangi, perjalanan kami seolah tak mau berhenti. kami belum akan singgah ke sangkar. ada suatu urusan yang harus terselesaikan, harussss…malam ini…. 120 menit berlalu, tidak terasa bagiku, tapi bagi benu??? aku tak tahu. kitapun hendak kembali ke sangkar, kini bukan hanya aku dan benu. si rika, si kalem, si madam dan si ibu pembangunan (smiling jenderal) ikut bersama. satu angkot saja sudah terasa sesak. seperti biasa angkot serasa milik kita ber-6, obrolan kami memecah keheningan malam dalam angkot. sayang tujuan dua dari keenamnya berbeda, aku termasuk pada keenam itu. kita hampir sampai, 1 angkot lagi. tiba-tiba………………

yeah….air matanya tumpah. deras sekali.. aku dan yang lain tertegun lugu. “kita terjebak…astaga…!!!” angkot mulai merapat, menandakan tujuan kita dekat. bushet… tangisnya tampak menderu. kita berteduh di teras jasa internet. tak ada guna, airnya menipis kain yang membalut kami berempat . padahal tinggal satu langkah lagi kami sampai. langit seolah tak peduli dengan harapan dan kecemasan. dia tetap menderu, bahkan semakin keras. “taxi…taxi…”, teriakan si benu memecah keheningan malam ditengah tangisnya. tak satupun taxi mendekat. “pak..angkot pak…”, nihil… kepasrahan tampak pada tiap-tiap wajah dara. akhirnya… kami menembus badai tangisan sang penyangga. menyeberangi jalan poros yang padat kendaraan. “horeee….!!!” seru kami bahagia, seolah mendapatkan segepok emas, kecemasan kami terobati. sekali lagi angkot yang sepi…hanya kami berempat. sayang…..tangisnya tak reda seolah memang enggan untuk reda. padahal seturun dari angkot terakhir, perjalanan menuju sangkar harus ditempuh sekitar 300meter lagi. ougrrrrrrrrrrr……. benu tampak berseru, menyesal, gelisah dsb, berkecamuk dalam dirinya. tak hanya dia, aku pun begitu. namun penyesalan tampaknya tak menyelesaikan masalah, aku sadar itu.

dibawah tenda coklat dengan penyangga 2 buah kayu, aku berteduh. benu dan aku dalam bisu. sama-sama mengharap hujan reda dengan segera. dua lelaki disampingku pun begitu, membisu… tak ada sepatah-duapatah kata pun terlontar malam itu.  kami tak mau mengalah untuk hujan, biarkan… kami tak mau basah. akhirnya si smiling jenderal membawakan payung, lumayan besar, muat untuk dua dara perawan sepertiku dan benu.
tapi….lapar kini melanda kita. sepotong ayam dan ikan ku bawa pulang, untuk kita santap di sangkar. sudah kita bayagkan betapa lezatnya makanan itu… bercampur kelelahan dan kebasahan. aku melihat wajah manyun benu dengan menenteng sepatu sporty-nya yang tak rela untuk basah. kaki kecil nan bengkaknya diganti oleh sandal pinjaman milik si mabok. karena malam itu si mabok terpana oleh ke-kuyub-an kita…

hufzzzzz….. seratus langkah aku menyusuri sangkar, dannnnnnnnn………

akhirnya sampai juga….

segera ku hempaskan kelelehan, kebasahan, kelaparan,dan kejengkelan bersama santapan ikan yang lumayan menghibur lidah.

satu bantal untuk ku dan satu guling untuk si benu, cukup…!!!

untung…aku ditemani mimpi yang seruuuuu….

si benu????? aku tak tahu….???? tanyakan saja padanya….!!!!

jalanan hampa,

210408/ oneday

dia butuh… aku kaku…

Aku mengenal lebih dari satu orang sepertinya. Semuanya sama, ingin menjadi lebih dari apa yang aku mau. Sempat memberi jawaban atas segala pertanyaan. Namun tak membuatnya cukup. Belum saatnya aku menjalani ini lebih dari kewajiban yang harus aku lalukan. Aku tak mampu membuka mata untuk melihat keberadaannya. Sungguh… tak ingin ku tahu dimana dia.

Harapnya begitu besar, namun tak mampu mengalahkan hatiku yang mengakar pada keyakinan. Dan kini telah ku temukan jawaban, tetap pada pendirian. Begitu pula dengan dirinya, teguh pada pendirian untuk menyakinkan pada diriku yang telah kaku. Sadarkah dia akan aku?? Begitu pula dengan aku, sadarkah bahwa dirinya butuh?? Aku seolah tak mau tahu. Sampai kapan kau akan menunggu?? Padahal aku bisu….

cukup….!!!

Aku akan menjadi biasa. Mungkin sama seperti yang kau kira…

profil wartawan “Apriani Landa”

”Wartawan itu Bebas”

Berperawakan kecil, kulit sawo matang, dengan baju biru abu-abu bertuliskan Tribun Timur adalah Aprianti Landa. Wartawan koran harian lokal makassar yang memulai karir kewartawanannya sejak tahun 2003. Pagi itu (12/04) Apri (sapaan Aprianti Landa), terbangun dari tidurnya pukul 8.00 wita. Bergegas segera pergi tanpa sarapan untuk melakukan liputan di Jl. A.P Pettarani, liputan tentang lomba akuntansi nasional. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit dari tempat tinggalnya di Jl. Cendrawasih, dia tempuh dengan angkot (pete-pete). Liputan yang menurutnya tidak membutuhkan waktu banyak untuk berada di tempat, Apri berinisiatif untuk pergi ke tempat liputan lainnya di MTC. Rubrik ”mal to mal” adalah rubrik yang mengangkat tentang harga pasar ponsel atau gadget terbaru yang merupakan bagian kerja liputannya di desk ekonomi. Liputan berakhir, Apri ingat akan janjinya untuk membawakan kue Jalangkote pada teman yang telah menemukan dompetnya yang hilang beberapa waktu lalu. Jam tengah menunjukkan pukul 12.00 wita Apri memilih kembali ke kantor Redaksi Tribun Timur untuk menuliskan hasil liputan ”mal to mal”. Tak lupa dia mengecek inbox email untuk sekedar tahu informasi yang telah dikirim kepadanya.

Merasa tidak ada yang perlu dia lakukan di kantor, perempuan yang menyukai kamar sebagai tempat faforitnya ini memilih untuk pulang ke rumah. Pukul 14.00 wita Apri berjalan menuju rumah yang berjarak 300 meter dari kantornya. Jarak yang tidak terlalu jauh bagi seorang Apri dengan keseharian berburu berita dari satu tempat ke tempat lainnya. Kelelahan tampak pada wajah hitam manis ini, dia baru sadar bahwa dirinya belum menyantap makan dari pagi. Sesampainya di kamar tempat kostnya, Apri makan siang. Seusai makan Apri merilekskan tubuhnya yang telah diforsir seharian, namun dia tak mampu memejamkan mata, walaupun terasa berat. Buku bersampulkan pink-hitam diraihnya, Laskar Pelangi, Apri melanjutkan bacaan yang sempat tertunda lantaran kesibukannya sebagai wartawan.

Tak terasa senja telah pergi bersama waktu. Pukul 17.30 wita Apri kembali ke kantor untuk mengkonfirmasi liputan pagi tadi yang sempat dia tinggalkan. Kemudian dia menuliskan dan menyerahkannya pada redaktur. Liputan Apri tidak sampai disitu. Acara yang diadakan oleh salah satu promotor iklan di Hotel Sahid, meminta Apri untuk meliput acara tersebut. Pukul 19.30 Apri tiba di Hotel, walaupun terlihat raut wajah yang tampak lelah, gerakan dan langkah Apri malam itu menunjukkan semangat jurnalisnya. Apri datang bersama temannya, Ikhsan, fotografer yang akan mengabadikan liputannya. Apri duduk bersama wartawan dari media lain. Tampaknya sudah saling kenal. Ikhsan terlihat sangat sibuk memotret moment malam itu. Apri hanya duduk, sesekali dia menghampiri teman se profesi lainnya. Dalam acara seperti ini, Apri tidak perlu menunggu hingga penutupan acara. Karena sifat laporannya hanya seputar tujuan diadakan acara tersebut, dan hal itu bisa dia konfirmasi langsung pada panitia pelaksana. Kesempatan untuk makan malam pun Apri manfaatkan di tengah-tengah acara berlangsung. Acara belum berakhir namun sekitar pukul 21.00 wita Apri dan Ikhsan kembali ke kantor untuk menyiapkan berita dan menyerahkan langsung pada redaktur, mengingat waktu deadline yang mepet dan berita harus terbit besok pagi.

***

Begitulah gambaran aktifitas yang dijalani perempuan yang bercita-cita ingin menjadi istri orang kaya ini. ketika ditanya soal alasan memilih profesi wartawan, Apri mengaku bahwa menjadi wartawan identik dengan kebebasan. ” jadi wartawan asyik, bebas pake pakaian apa saja. Dan saya orang yang tidak bisa tinggal diam.” tuturnya. Ketertarikan Apri akan dunia jurnalis mulai ada semenjak dia menjalani pendidikan S1 nya di jurusan Ilmu Komunikasi Unhas tahun 1999 dengan program studi jurnalistik. Minimnya sarana pembelajaran di jurusan ilmu komunikasi kala itu, membuat Apri berusaha mencari pendidikan non-formal di tempat lain, salah satunya di kota Malang-Jatim.

Perempuan kelahiran Bua-Luwu 29 tahun silam ini, memulai karirnya sebagai waratawan Tribun Timur sejak 2003. Apri menjalani magang selama 6 bulan. Febuari- Agustus 2004 Apri ditugaskan di kabupaten Bone. Kemudian pada september 2004, selama kurang lebih 3 tahun dia kembali ke Makassar dan ditugaskan dibagian desk olahraga. Dan kini Apri yang hobby sekali ditraktir ini berprofesi sebagai wartawan desk ekonomi yang baru dijalaninya januari 2008. Apri berharap peofesi wartawan dapat dihargai secara peofesional.

Biodata :

Nama : Apriani Landa

Panggilan : Apri

TTL : Bua-Luwu, 23 April 1979

Alamat : Jl. Cenderawasih

Profesi : wartawan Tribun Timur

Sekolah : SD-SMP di Bua

SMA 1 Palopo

Ilmu Komunikasi Unhas

Pengalaman organisasi : Pramuka Unhas

Fotografi Unhas

PMKO Sospol

Hobby : ditraktir

Cita-cita : Ingin jadi istri orang kaya

Makanan faforit : sambel terasi, sayur bening, ikan bakar plus nasi putih

Minuman faforit : Air putih

Warna faforit : Biru, putih dan hitam

Tempat faforit : Kamar