Aku Binatang

Aku ingin membuang segala harapan-harapan kosong pembudak diri
Tak ada yang mulia selain keagunganMu
Aku hanya bisa menaruh amarah dan nafsu
Dan tak pernah menyiraminya dengan ruhani cahayaMu yang abadi

Menjadi manusia, aku mengemban nista
Tak sedetikpun aku sujud merendah di haribaanMu
Hayal binatang merasuk kalbu
Tak terbuang dalam ibadah

Mandiri kost,060909,23:51wita

G.E.L.O.R.A

Jiwanya mengakar palsu

Inikah cinta?

Cuihhh…

Meratap beradap serasa hanya siulan jalang

Dahaga memuncak pada kharisma

Menebar racun asmara yang bergelora

Akan berakhir dimana ini semua?

Tak lagi diselimuti panca ronanya

Terbang menghapus laku mulia

Sesekali mengendus meradu hasrat pada insan ruhani

Sucikah dia?

Mampukah dia beratahan diatas lumbung berduri?

Menengadah bukan untuk mencari hadirNYA

Namun mengharap jalang itu hinggap

Cobalah mengerti arti harga diri

Tak sekedar berjanji sampai mati

Tapi membawa mimpi menuju hadirat Ilahi

Sampaikan salam ini padanya

Bukan paras yang terias

Namun laku mulianya yang ikhlas

Duhai…pria brigas!!!

Mandirikost/191010/12:05wita

refleksi sebuah profesi

Menjadi apa yang dicita-citakan, memang tak semudah menggoreskankannya pada catatan masa kecil kita. saat ditanya,”kamu kalo besar mau jadi apa?”, dengan mudahnya mulut kecil ini menjawab, “pramugari”, profesi yang dianggap memiliki tingkatan status lebih tinggi. padahal dulu aku kurus dan ceking, jauh dari kriteria pramugari yang mengutamakan penampilan fisik luar biasa. namun, sedikit demi sedikit asa itu membias ditengah realitas hidupku. hingga akhirnya, cita-cita kecil yang semu itu hanya akan mengisi kamus hidupku yang berdebu. aku membiarkan angan-angan itu menari-nari diatas kepala ini. bukan niat meninggalkannya begitu saja, tapi mencoba berbelok arah, mencari relevansi kehidupan. aku lahir dari keluarga sederhana, yang kiranya tak mampu membawaku melambung tinggi membawa asa itu. tapi akau tak mau menjadikannya tembok penghalang bagi sebuah kesuksesan. sudah banyak cerita yang terkumpul untuk menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang bukan datang dari kemewahan. itulah yang mendorong semangat ku untuk terus mencari celah penghidupan.

dibawah cahaya lampu yang temaram, sinar media bergerak juga meradu ramu menyemarakkan malam penuh kebersamaan. aku dan keluarga kecilku, menikmati obrolan beberapa orang yang tak ku kenal dilayar warna itu. entah mengapa, obrolan mereka membawa aku pada satu keadaan, aku ingin seperti mereka. nampaknya perasaan itu tidak hanya menghampiri pandangku, orangtuaku pun demikian. suara lembutnya, memecah ditengah keredupan malam bercampur dengan obrolan dilayar tadi, “bisakah kamu seperti itu?”. tersentil aku sambil mengarah lembut ke sumber suara tadi. entah ini hanya intermezzo atau pengaharapan yang memuncah?, aku tersenyum sambil menjawab, “kenapa tidak!!!”, meyakin sekaligus mengharap, ini sebuah doa dariku dan dari suara lembut tadi.

denting jarum jam tak mau kompromi, senyap merayap didinginnya malam, mengahantar keluarga bahagia ini terlelap satu persatu. tapi tidak bagi aku. sedikit menghayal dan merefleksi obrolan malam tadi, aku ditemani bunyi kipas angin yang mendesir. tantangan, harapan, atau hanya sekedar tanya yang mendera?

tiga tahun, penantian hidup ini menemui muaranya. bisa atau tidak, mau atau tidak, ini pilihan hidup. refleksi obrolan malam itu, tak pernah pudar di makan waktu yang cukup panjang. kini aku berada pada titik kemandirian, pandangan hidup yang ingin ku bangun sejak dulu, tanpa atau dengan tuntutan orangtuaku. jika tantangan, harapan dan tanya mereka kembali terlontar, kini aku bisa menjawabnya. inilah aku, dengan profesi baruku yang lahir dari obrolan malam yang memanja. jika malam itu kan terulang, aku tak bisa bayangkan..hal apa yang akan lahir dari jiwa yang tak pernah puas ini.

terimakasih ayah..terimakasih bunda..engkau membangkitkan semangat jiwa manja ini. jika ini memang jalanNya, aku akan berjalan di atas bara kehidupan yang ketir…

Bloggers/181010/21:42wita

Marhaban Yaa Ramadhan…

Manusia tempat segala dosa bermuara

Tempat segala ingkar berikrar

Dan tempat segala musibah tertumpah

Aku manusia…

Ketika mulutku tak mampu berucap

Hati ini bertanya: akankah aku mampu menjadi insan seperti kehendakNYA?

Hanya air mata yang mampu menjawab dengan derainya

Marhaban Yaa Ramadhan…

Selamat datang bulan penuh rahmat

Kehadiranmu sebagai bulan suci membawa aku ke ladang ampunanNYA

Atas dosa, khilaf dan hati yang berprasangka

“selamat menunaikan ibadah puasa 1429H”

MandiriKost,310808/21:23wita

ada TUYUL di Rektorat

Isu mistis terkadang membuat rasio kita tak berfungsi secara normal. Fenomena penasaran yang belakangan melanda warga KOSMIK kini sedikit demi sedikit mulai terkuak. Isu tentang keberadaan tuyul di kampus merah UNHAS menyeruak hingga kepermukaan. “ada tuyul di rektorat“, inilah kalimat pertama yang terlontar dari seorang teman (sebut asaja Cici. red) dan akhirnya mampu menghipnotis pikiran teman-teman lainnya untuk dapat melihat mahkluk gaib yang dilindungi ini. Tak sampai satu minggu isu tuyul menyebar luas “nyaris” keseluruh warga KOSMIK. Pertanyaan bertubi-tubi bersarang pada Cici, menunjukkan rasa penasaran tingkat tinggi mereka. Ini bukan lagi bicara soal paradigma, teori, atau analisis yang biasa menjadi makanan komunitas unik dan radikal, tapi ini soal keyakinan dan kepolosan.

- Keyakinan : sejauh mana Cici mampu meyakinkan teman-teman soal tuyul dan sejauh mana mereka (tuyulholic) yakin atau percaya terhadap keberadaan tuyul itu.

- Kepolosan : begitu polosnya Cici menyebarkan isu keberadaan tuyul tanpa memperhatikan psikologis teman-teman yang berbuntut pada rasa penasaran tinggkat tinggi mereka, Cici seolah hadir tanpa bersalah hingga akhirnya membangun polemik soal ketuyulan. Begitu polosnya pula tuyulholic menganggap serius keberadaan makhluk yang identik dengan kepala plontos ini.

Sampai opini ini diposting, tercatat 60% orang masih percaya (penasaran) dan belum melihat wujud tuyul yang sebenarnya. Dan 40% orang yang telah mengetahui keberadaan tuyul menyatakan penyesalan dan menyimpan kekecewaan mendalam.

Siapakah si tuyul sebenarnya? dan siapakah Cici? sehingga mampu mendongkrak rasa penasaran komunitas biru-merah ini?

Akankah 60% orang mengalami shock ataupun kekecewaan sama halnya dengan responden 40%?, ketika mengetahui bahwa tuyul yang dimaksud adalah dia yang bertengger di taman segitiga rektorat UNHAS, berwarna hitam polos, tinggi mencapai kurang lebih 30cm, dengan background kuning, dan tergantung diatas tiang.

MandiriKost,300808/23:40wita

Ryan: Pembunuhan Berantai, Media: Pembunuhan Karakter

Kasus pembunuhan berantai yang saat ini sedang booming dibicarakan, membuat sang peran utama dalam drama itu menjadi benar-benar tenar. Siapa yang tak kenal Very Idam Henyansyah alias Ryan?. Orang yang dianggap pembunuh berdarah dingin, yang telah memakan korban 11 orang. Media tak henti-hentinya memuat berita soal pembunuhan berantai yang memakan banyak korban ini. Tragis memang, melihat dan mendengar berita yang cukup menggemparkan seantero jagad pribumi. Kota Jombang pun menjadi kota yang terkenal dadakan sebagai tempat wisata kawasan penimbunan mayat korban Ryan. Tapi siapa yang menjadikan semua ini gembar? Dan si Ryan menjadi tenar? Jawabannya adalah media. Media mampu membangun karakter seseorang tapi kala itu juga media bisa melakukan pembunuhan karakter. Disinilah peran media dalam mempublikasikan berita tentang Ryan membawa dampak besar. Agenda Setting Theory nampaknya telah diperankan oleh media saat ini. Asumsinya bahwa media tidak merefleksikan realitas, namun cenderung membentuk realitas itu. Media mengarahkan kita untuk memperhatikan sesuatu dan mengabaikan yang lain. Disadari atau tidak, popularitas Ryan baik sebagai masyarakat biasa atau tersangka pembunuhan mengalahkan popularitas Artalita atau tikus-tikus lainnya dalam kasus korupsi yang belakangan sempat menjadi pemberitaan.

Media gagal meramu kasus Ryan secara proporsional. Seperti dilansir dari KOMPAS (03/08/08). Dimana berbagai media nasional berlomba-lomba melakukan pemberitaan tentang kasus Ryan yang dikomodifikasi demi memburu rating. Sehingga kontens pemberitaan tak lagi dipedulikan. Bahkan Privacy kehidupan Ryan di expose blak-blakan. Mungkin karena Ryan orang biasa yang tidak mempunyai kekuasaan hukum yang tinggi sehingga seenaknya saja dipublikasian. Seperti yang dilakukan media elektronik tertentu dalam pemberitaannya tentang kehidupan keluarganya pada masa lalu. Pasalnya, Ibu Ryan telah hamil 4 Bulan sebelum akhirnya dia menikah dengan ayah Ryan. Pemberitaannya pun sudah tidak relevan lagi dengan peristiwa kasus yang sebenarnya.

Kasus ini juga berdampak pada perspektif seseorang, wacana yang hadir ditengah-tengah masyarakat mampu mengeneralisir kepribadian Ryan. Kabar bahwa Ryan adalah seorang Homosex/ Gay, membuat masyarakat beranggapan semua kaum Homo itu sekejam Ryan. Katz & Lazarsfeld (1955) dalam teorinya Hypodermic Needle bahwa bagaimana media massa memberikan pengaruh yang besar dalam masyarakat. Media seolah “menyuntikkan” jarum pesan pada audience yang pasif sehingga cepat mempengaruhi mereka dengan pesan tersebut. Kini kasus Ryan menjadi complex, sasaran empuk pemberitaan media ditengah isu lainnya yang mungkin terbungkus oleh kejadian fenomenal ini. Ryan menjadi “laris” dipasaran media.

BiroTrans, 060808/20:04wita

Karya Jurnalistik

Karya jurnalistik adalah mudah bagi orang yang paham ranah jurnalistik. Semudah apakah itu? Ya…semudah anda memahami arti kebenaran dan keuletan. Tapi tampaknya dua kata tersebut tak bisa diartikan secara harfiah saja. Falsafah kebenaran harus dijelaskan dengan rinci tanpa menimbulkan pertanyaan baru yang membingungkan lagi. Namun kata kebenaran sendiri sangat riskan, apalagi bicara tentang paradigma.

Memegang amanah, menjadi pemimpin karya jurnalistik seperti majalah, tentu tidak mudah. Melahirkan media cetak jurnalistik di lingkungan kaum intelektual jelas membutuhkan pemikiran yang kritis. Kritis terhadap segala persoalan yang disuguhkan demikian rapi, sehingga mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu hanya birokrasi yang dianggap lumrah. Bukan sekedar menggoreskan pena pemikiran yang mendongeng dan mendayu-dayu seolah membawa si pembaca singgah ke alam bawah sadar yang memang tak pernah realistis. Ini kampus..!! tempat lahir dan terbentuknya pemikiran-pemikiran kritis yang idealis. Jangan lagi takut bersikap idealis, karena justru jiwa idealis itu harus muncul diatas sistem birokrasi yang sok ulet. Ini adalah sebuah karya independensi yang tak lepas dari kebebasan berkarya namun tetap berpegang teguh pada kode etik. Pengolahan issu yang mendalam berujung pada proses investigasi untuk melahirkan fakta yang lebih tajam dan akurat. Issu tidak lagi diolah secara ringan dan tak berbobot. “Apa dibalik apa” merupakan kunci laporan mendalam tentang sebuah peristiwa.

Memulainya dengan komitmen adalah langkah awal yang bijak. Komitmen untuk sama-sama bertanggung jawab membangun kekuatan sebuah karya independensi yang menglobal sehingga majalah ini tak hanya sebagai telur dari program kerja, tapi mendapat kredibilitas contents yang lahir dari goresan pena para jurnalisnya. Namun alangkah baiknya komitmen yang dibangun dipadukan dengan kompetensi atau skill menulis yang dimiliki tiap-tiap jurnalis, sehingga benar-benar lahir karya jurnalistik layak publikasi.

***

Majalah BARUGA merupakan salah satu wadah kreativitas mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam menghasilkan sebuah karya jurnalistik. Membawa nuansa unik dan radikal, majalah ini lahir ditengah-tengah komunitas mahasiswa yang sarat akan pengetahuan jurnalistik. Tujuannya pun sangat konkret bahwa ini adalah praktek produksi karya dalam proses belajar. Disinilah lahir jurnalis-jurnalis muda dalam meramu fakta menjadi berita tulis yang layak untuk dipublikasikan dan dikonsumsi khalayak terlebih kaum intelektual akademika.

de@net, 250708/22:09wita

Aku… Kau…

Anganku tak pernah lepas dari kharismanya

Memukau bak mutiara disirami rem

bulan

Cahaya manapun tak mampu membendung pancarannya

Mulutnya berbisa

Meracuni kalbuku yang tertutup embun oleh dinginnya malam

Kau hadir kembali seperti rasi bintang yang pandai meramal

Namun aku terjatuh ke lumbung padi berduri

Sakit…!!! Apakah kau merasakan itu?

Kau tampak acuh

Aku makin sakit, tak sedikitpun kau tahu

Aku menjerit, kau tampak tak panik

Aku meronta, kau diam saja

Kini aku berontak, dan kau tinggalkan aku tanpa jejak

Sekejam itukah dirimu? Menitip angan pada zaman yang tak pernah kau hiraukan

mandirikost,220608,11.10wita

“TIREN” Film Horor Berbasis Porno

Film karya sutradara Indonesia nampaknya sudah merajai studio film di kota-kota. mulai dari karya bermutu hingga menghilangkan selera nonton publik terhadap karya film tersebut. Horor-mistik menjadi tema film Indonesia yang boming saaat ini. segala macam rupa hantu disuguhkan pada masyarakat yang nampaknya ikut tergiur dengan adegan-adegan yang menegangkan. “TIREN” merupakan salah satu film horor yang sedang tayang saat ini di studio-studio bioskop kesayangan anda. Sepintas judul dan gambar dalam showbox-nya menarik perhatian sejumlah orang, salah satunya adalah saya dan teman-teman. Tak dinaya, adegan tiap adegan dalam film itu jauh dari prinsip dasar film layak tonton segala usia. Temanya pun jauuuhhhh melenceng hebat bak roket meluncur tak terkendali menembus dinding2 luar angkasa. Seperti; -Judul: TIREN alias mati kemarin tak menunjukkan bahwa film tersebut adalah bertemakan orang yang mati kemaren yang gentayangan dengan sebas almusabab yang tidak jelas.

-Showbox: dalam showbox terpampang gambar adegan seseorang sedang memandikan mayat yang tergeletak di atas pelepah pisang. Namun ditunggu-tunggu adegan itu tak muncul sekelibat pun.

-Unsur porno: tema horor tidak lagi melekat dalam alur cerita. bahkan adegan syur tak ber-attitude disajikan blak-blakan. Pilihan gambarnya tal mewakili sebuah cerita horor. Justru diperkuat pada adegan mandi, bercumbu, pipis, kemulusan paha artis.

Film ini hanya diperkuat oleh sound yang memekak tiba-tiba, sehingga penonton pun terkaget-kaget. BUKAN karena adegan horor yang memikat.

Terkadang memang karya film saat ini tak bisa dipertanggungjawabkan, asal jadi dan berprofit. tak lagi ada pertimbangan kualitas film dari segi alur cerita, gambar, atau bahkan talent. Film TIREN inipun tak jauh beda dari film-film horor sebelumnya, seperti ‘terowongan casablanca’, ‘pulau hantu’, ‘malam jumat kliwon’, dan beragam jenis hantu lainnya. Beginilah mungkin gambaran kekreatifitasan seorang sutradara dalam meracik sebuah ide cerita kedalam kemasan audio visual. Ada dua pandangan yang berbeda dalam memaknai film sebagai kaya seni. Pertama; kapan kita akan mulai menghargai film Indonesia, kalau kita tidak akan pernah menikmati dan melihat perkembangannya film Indonesia itu sendiri. Kedua; bagaimana kita bisa menerima karya itu dengan baik jika tidak sesuai dengan aturan atau konsep yang sesuai, yang terkadang si sutradara menyajikannya begitu saja tanpa konsep yang matang dan kadang tak memuaskan.

Kini, tergantung anda sebagai penikmat film. Film manakah yang sesuai dengan kebutuhan anda dan menjadi daya tarik anda. Kalupun anda ingin menjadi kritikus film yang baik, tak ada salahnya menikmati segala jenis tema/judul film Indonesia untuk mengetahui perkembangan dunia per-film-an Indonesia.

de@net,280608-20.11wita

kosmik get up..!!!

KOSMIK telah melahirkan pemimpin baru (12/06). Tepat pukul 02.24 wita, terpilih secara resmi ketua Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi periode 2008-2009, Irwan Idris, putra asal Gowa-Makassar. MUBES ke-21 yang berlangsung selama 4 hari ini rupanya sedikit menyita perhatian warga kosmik yang sedikit peduli dengan organisasi. Buktinya, rapat sidang MUBES tak jarang di pending atau bahkan di scorsing hanya karena tidak memenuhi quota forum (Qorum). Jumlah peserta yang hadir dibawah rata-rata jumlah anggota KOSMIK secara penuh. Tragis memang, mengingat pamor keorganisasian KOSMIK sempat berada dipuncak dan menjadi pusat perhatian di kalangan himpunan mahasiswa lainnya. KOSMIK bahkan lebih dikenal dari pada jurusan ilmu komunikasi itu sendiri. Ketika KOSMIK tertatih-tatih menuju ke keharmonisan anggota dan berada di puncak ketenaran, lambat laun di enyahkan begitu saja oleh para penganut paham modernism. Skat-skat yang dibuat secara tidak sadar dan tidak terstruktur, hadir tanpa bersalah. Tidak ada lagi prinsip dasar keorganisasian yang melekat atau bahkan mendarah daging di tiap insan intelektual ini. Walaupun ini hanya argumentasi mentah dari saya pribadi, tapi saya mendapatkan esensi ke KOSMIK-kan yang demikian. Nyata atau tidak? Biarkan anda yang menginterpretasikan sendiri.

Akankah kehadiran sang pemimpin organisasi yang baru ini mampu membangun persepsi baru tentang ke KOSMIK-an? Pertanyaan ini mungkin belum bisa terjawab saat ini, ini adalah langkah awal kepengurusannya. Namun gerak antipasi harus dibangun sejak dini, dan bukan hanya sang pepimpin yang kita sorot, antek-anteknya pun demikian. Karena ini adalah sebuah organisasi yang tidak dan bukan milik sang pemimpin semata. Kemudian bagaimana strategi kepungurusan ini dibentuk secara apik?. Sejauh mata memandang, tampaknya sudah tercium bau-bau pergerakan oleh kepengurusan periode saat ini. Tak tinggal diam, para leluhur KOSMIK yang masih berpijak di tanah KOSMIK membangun strategi dan seolah siap tempur. akankah KOSMIK mampu bertahan dalam peradaban dunia kelembagaan? atau bahkan membangun peradapan baru tentang lembaga oragnisasi non-profit?

KOSMIK, get up..!!!

de@net,280608-18.36wita